Perempuan sering disebut sebagai makhluk lemah lembut yang butuh perlindungan, karena fisik perempuan dianggap tidak sekuat laki-laki. Jika dunia lihat perempuan adalah makhluk yang lemah, perihal tersebut tidak seluruhnya benar.

Seiring berkembangnya zaman termasuk digelorakannya emansipasi wanita, pekerjaan laki laki pun bisa dilaksanakan oleh perempuan. Operator alat berat misalnya.

Industri pertambangan merupakan dunia kerja yang identik bersama dengan sifat maskulin, secara alamiah pekerjaan didalam sektor itu lebih cocok untuk kaum laki-laki.

Tidak hanya dihubungkan bersama dengan gender, para pekerja tambang termasuk diasosiasikan sebagai bentuk pengambilan pekerjaan yang berisiko tinggi, kotor, dan membahayakan lagi-lagi yang lebih pas bersama dengan sifat maskulin.

Pada kenyataannya, sampai saat ini sesungguhnya sebagian besar kalangan khususnya penduduk di Indonesia masih mempunyai sudut pandang bahwa posisi operator alat berat pertambangan, layaknya dump truck, merupakan pekerjaan yang identik bersama dengan laki-laki karena punyai risiko tinggi

Rekomendasi tempat beli alat berat terbaik:  jual dump truck.

Pada perkembangannya sebagian dekade belakangan ini, dump truck makin banyak digunakan sebagai peralatan angkut didalam operasional pertambangan mengambil alih truk-truk kecil karena dinilai lebih produktif dan efisien. Pekerjaan sebagai operator dump truck punyai fenomena tersendiri, karena seandainya kita amati sekilas sesungguhnya didalam mengoperasikan terlihat sangat santai secara fisik walau terhadap sebenarnya untuk menjadi seorang operator harus mengikuti pelatihan yang ketat dan punyai fisik dan mental yang prima.

Desynta Eka Fitriani namanya. Gadis belia asal Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, itu  sudah dua th. mengambil peran menjadi operator alat berat di perusahaan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI).

Setiap harinya, milenial perempuan itu mengoperasikan articulated dump truck (ADT) 745 yang berfungsi untuk mengangkat ore bersama dengan kapasitas yang tak main-main, yaitu 40 ton.

Alumnus SMAN 1 Pesanggaran ini berhimpun menjadi karyawan PT BSI lewat program Green Operator Training yang diadakan oleh  operator tambang emas anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk, tersebut.

Green Operator Training merupakan program pelatihan kerja (on job training) bagi calon operator alat berat dan diperuntukkan bagi pemuda-pemudi kira-kira perusahaan yang pasti tidak punyai pengalaman sebagai operator sebelumnya. Dalam perihal tersebut, PT BSI menambahkan peluang bagi perempuan untuk menjajal profesi ini.

Menurut knowledge Departemen Sumber Daya Manusia PT BSI, bersama dengan lewat seleksi yang memadai panjang dan ketat, dari ratusan pendaftar terpilihlah enam orang pendaftar bersama dengan rincian tiga laki-laki dan tiga perempuan. Salah satunya adalah Desynta.

Perempuan yang sekaligus sebagai seorang penari tradisional itu mengaku puas . Dengan antusias ia bercerita terhadap saat itu pekerjaan yang sebelumnya ia geluti tengah terhenti karena imbas dari pandemi Covid-19. Maka moment itupun merupakan peluang emas untuk menapaki karir. Maka sesudah dinyatakan lolos, ia pun mantap dan bersungguh untuk mengikuti pelatihan tersebut.

“Ingin coba perihal baru karena perempuan termasuk bisa berlatih mengoperasikan alat berat dan menjadi operator yang kompeten,” katanya terhadap TIMES Indonesia, Kamis (27/10/2022).

Desynta melanjutkan, bahwa ia dan lima teman lainnya  mengikuti program pelatihan selama enam bulan. Namun ternyata tak semudah itu, banyak materi pelatihan yang harus sangat dikuasai oleh peserta Green Mining Operator untuk lulus menjadi karyawan senantiasa di PT Bumi Suksesindo.

Akhirnya, bersama dengan usaha dan kemauan yang kuat, Desynta pun sukses lolos bersama dengan kelima teman green operator seangkatannya.

Pada awalnya, para green operator ini harus didampingi instruktur saat mengoperasikan ADT. Itulah faktor lain yang menyebabkan Desynta merrasa nyaman bekerja di lingkungan tambang PT BSI. Karena tidak ada diskriminasi dari teman kerja khususnya para operator senior yang seluruhnya didominasi oleh laki-laki. Menurut Desynta, walau sebagai minoritas, ia senantiasa di terima dan dihargai sebagai operator perempuan.

Hal itu mematahkan ketakutan Desynta sebelumnya. Dengan muka murung ia bercerita bahwa sempat terbersit ketakutan didalam benaknya disaat harus bekerja di lingkungan kerja yang dikesankan banyak orang sebagai pekerjaan laki-laki. Raut wajahnya beralih seketika, ia mengemukakan bahwa disaat sudah menjalaninya, ternyata perihal itu salah, dan ia lega karena ketakutan itupun tidak terbukti.

“Mereka membantu saya kalau tengah mengalami ada masalah didalam perihal pekerjaan,” tuturnya.

Hal yang mirip termasuk disampaikan oleh Ella Dwi Safitri, green operator seangkatan Desynta yang berasal dari Dusun Pancer.

“Walaupun satu kru hanya ada satu perempuan, mereka bisa menciptakan keadaan kerja yang sangat hangat penuh kekeluargaan,” katanya.

Sebagai informasi, operator di BSI dibagi menjadi tiga kru. Setiap kru terdiri atas 70 sampai 75 orang. Semuanya laki-laki kalau tiga operator perempuan alumni program Green Operator Training.

Sejak menjadi operator, Ella mulai keterampilan dan pengetahuannya tentang dunia tambang tetap bertambah. Wawasannya makin terbuka karena bisa bersosialisasi bersama dengan banyak orang dari bermacam suku.

“Para senior senantiasa memberi support yang baik, saran yang membangun, contohnya yaitu bagaimana menyikapi keadaan yang baru, saya diajari untuk senantiasa tenang, fokus, dan pasti hati-hati,” ucapnya.

Baik Desynta maupun Ella sepakat, berkat mengikuti program Green Operator Training, tak hanya menaikkan wawasan, mereka bisa membantu perekonomian keluarga.

Mereka bangga karena banyak yang tidak yakin kalau perempuan-perempuan layaknya mereka setiap harinya mengoperasikan alat berat berukuran raksasa, karena dirasa mereka tidak mampu, namun mereka bisa mematahkan stigma itu.

Sementara itu, Senior Manager External Affairs PT BSI, Bambang Wijonarko menjelaskan, program Green Operator Training sangat strategis bagi perusahaan.

Karena menjadi anggota dari pengembangan sumber daya manusia di kira-kira lokasi tambang sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Dia berharap tanggung jawab sosial perusahaan berdampak positif bagi masyarakat.

Masih Bambang, program sosial perusahaan diwujudkan didalam delapan bidang pengembangan dan pemberdayaan penduduk (PPM), yaitu pendidikan, kesehatan, tingkat penghasilan riil atau pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan, kelembagaan komunitas, dan infrastruktur.

“Sepanjang 2021, BSI mengeluarkan 35 miliar rupiah lebih untuk realisasi program-program PPM,” kata Bambang.

Program-program PPM masih tetap berjalan sampai hari ini. Selain melaksanakan program-program regular, tim dari perusahaan tengah menyelesaikan program-program khusus, layaknya pembangunan jalan, bedah rumah, pemasangan lampu penerangan jalan, sampai pertolongan terhadap pedagang mikro di areal wisata kira-kira perusahaan.

By admin